PROPOSAL
STUDI GEOGRAFI
EKONOMI TERHADAP PEMANFAATAN POHON KELAPA DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI
KELAPA
DI DESA
GARAUPA RAYA KECAMATAN PASILAMBENA
KABUPATEN
KEPULAUAN SELAYAR
SUHARDIN. B
081 514 010
PRODI GEOGRAFI
JURUSAN GEOGRAFI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN
ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI
MAKASSAR
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemajuan pesat yang dicapai dalam pembangunan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat ternyata di iringi oleh kemampuan sumber daya alam sebagai
penyangga kehidupan. Sumber daya alam sebagai faktor penunjang dalam
mensejahterakan masyarakat ternyata belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat
sepenuhnya. Upaya pemanfaatan
sumber
daya merupakan aspek penting
dalam pembangunan nasional karena hal tersebut merupakan sumber segala kebutuhan masyarakat baik dalam
bidang ekonomi, politik, maupun
dalam bidang sosial budaya.
Menurut Rahmat Rukmana, Indonesia
merupakan negara produsen kelapa terbesar di dunia, di ikuti Filipina, India
dan Srilangka. Sebagai penghasil kelapa terbesar, menuntut pemerintah dan
masyarakat secara keseluruhan untuk mengembangkan mutu kualitas kelapa sehingga
kuantitas kelapa bukan menjadi salah satu tolak ukurnya. Di samping itu,
pemerintah dan masyarakat juga harus berusaha mengembangkan risetnya, sehingga
dari waktu ke waktu selalu dihasilkan varietas kelapa unggulan. Karena ikatan
ekologis manusia dengan lingkungan sekitarnya akan selalu dan saling
mempengaruhi satu dengan yang lainnya, dimana manusia dengan sumber daya yang
ada akan bisa bertahan hidup dan mampu mengembangkan riset yang ada, sedangkan
sumber daya akan dijaga dan dilestarikan serta dikelola sebagai mana mestinya
oleh manusia yang bertanggungjawab.
Bukanlah sebuah hal yang
asing di dengar, ketika disebutkan bahwa pohon kelapa adalah sebuah pohon yang kaya
akan manfaat dan kegunaan, namun merupakan hal yang aneh jika di negeri yang
kaya ini yang tergolong negeri dengan iklim tropis merupakan iklim yang kondusif
untuk pertumbuhan pohon ini, namun pemanfaatannya justru di anggap produksi
sampingan oleh sebagian dari para usaha warga negara ini. Sehingga potensi alam
yang begitu besar untuk di kembangkan dalam menunjang kesejahteraan masyarakat
belum juga tercapai sesuai dengan harapan yang ada. Alam yang luas dan kaya
akan sumber daya alam memiliki peluang besar dalam meningkatkan pendapatan
masyarakat khususnya petani kelapa. Hal tersebut bukanlah hal yang sulit
dilaksanakan selama pola pikir manusia tetap berpegang teguh pada nilai-nilai
ekologis kehidupan.
Kabupaten Kepulauan
Selayar sebagai wilayah kepulauan merupakan salah satu wilayah produsen kelapa
terbesar di Sulawesi Selatan, terkhusus di Desa Garaupa Raya Kecamatan
Pasilambena yang rata-rata penduduknya berprofesi sebagai petani kelapa. Sebagai
tanaman mayoritas di wilayah tersebut idealnya masyarakat mampu memaksimalkan
pemanfaatan kelapa seperti yang yang terjadi di wilayah Kepulauan Riau dimana
tanaman dijadikan sebagai tanaman produktif dalama meningkatkan pendapatan
masyarakat disana. Namun hal tersebut belum terjadi secara total di Desa
Garaupa Raya sehingga pendapatan petani kelapa belum terlalu maksimal. Beberapa
masalah kemudian muncul sebagai faktor penghambat baik dalam pemanfaatan kelapa
maupun dalam meningkatkan pendapatan petani kelapa. Permasalahan tersebut
diantaranya masyarakat belum menyadari dan memanfaatkan bagian pohon kelapa
secara menyeluruh, persaingan pasar semakin menigkat yang membuat hasil
produksi tanaman kelapa menjadi turun, dan
perbandingan jumlah penduduk dengan luas dan jumlah pohon kelapa yang tidak
sebanding.
Hal tersebut di atas
berdampak pada seluruh bidang kehidupan masyarakat baik pada bidang ekonomi, sosial
maupun budaya yang ada dalam masyarakat. Pada keadaan sosial, kelapa sebagai
alat penunjang dalam beberapa kebutuhan dasar masyarakat yang dijadikan sebagai
alat bangunan rumah, minyak goreng, makanan ringan, dan berbagai kebutuhan
pokok masyarakat.
Dari segi ekonomi,
sebagian besar pendapatan masyarakat bersumber dari hasil pertanian kelapa,
baik itu dari hasil penjualan kelapa dalam bentuk kopra ataupun dari berbagai
jenis lain dari kelapa yang memiliki nulai
jual dalam masyarakat. Terakhir pada keadaan budaya yang tidak terlepas dari kehidupan
masyarakat dimana beberapa bagian pohon kelapa dijadikan sebagai alat pada
beberapa ritual dan acara adat masyarakat.
Oleh karena itu, kelapa
sebagai tanaman yang memiliki dan berpengaruh pada kehidupan sosial, ekonomi,
dan budaya masyarakat seharusnya mampu dimanfaatkan secara maksimal dalam
menciptakan dan memwujudkan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan beberapa uraian
diatas, maka kami berniat untuk mengadakan penelitian dengan judul “Studi
Pemanfaatan Pohon Kelapa Dalam Meningkatkan Pendapatan Petani Kelapa Di Desa
Garaupa Raya Kecamatan Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, maka terdapat beberapa rumusan yang dapat disimpulkan
yaitu;
1.
Bagaimana pemanfaatan kelapa di Desa Garaupa Raya Kecamatan Pasilambena?
2.
Bagaimana sumbangan kelapa terhadap tingkat pendapatan petani kelapa?
3.
Faktor-faktor apa yang berpengaruh sehingga produksi kelapa tidak maksimal dalam
meningkatkan pendapatan petani kalapa?
C. Tujuan Penelitian
Merujuk
pada latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka terdapat beberapa hal yang
ingin dicapai dalam penelitian ini yang kemudian dijadikan sebagai tujuan
penelitian yaitu;
1.
Mengetahui manfaatan
kelapa di Desa Garaupa Raya
Kecamatan Pasilambena.
2.
Mengetahui sumbangan kelapa terhadap tingkat pendapatan petani kelapa.
3.
Mengetahui faktor-faktor
apa yang berpengaruh sehingga
produksi kelapa tidak maksimal dalam meningkatkan pendapatan petani kalapa.
D. Manfaat Penelitian
Beberapa
manfaat yang dapat dijadikan sebagai patokan dalam pencapaian penelitian ini
adalah;
1.
Dapat mengetahui sejauh mana manfaat kelapa
dalam meningkatkan pendapatan
petani kelapa.
2.
Bagi mahasiswa yaitu dapat dijadiakan sebagai referensi
pembelajaran dalam menganalisis potensi di Kabupaten Kepulauan Selayar.
3.
Bagi masyarakat yaitu dapat mengetahui besarnya manfaat kelapa dalam
kehidupan ekonomi, politik, maupun sosial dan budaya.
4.
Bagi pemerintah yaitu dapat mengetahui potensi daerah serta
mengelolahnya dalam meningkatkan pendapatan daerah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Sejarah Pohon Kelapa
Kelapa
adalah salah satu keluarga dari palm yang dapat tumbuh hingga ketinggian 1000 m
dari permukaan laut yang dalam bahasa Latin biasa dikenal
dengan sebutan cocos nucifera.
Kata coco
di gunakan pertama kali oleh Vasco da Gama, dan pada sebutan lain juga biasa disebut
Nur indica, al djans al Kindi, ganz-ganz, nargil, tenga, temuai dan akhirnya
sampailah pada sebutan coconut. Pada
ketinggian tertentu pohon ini mampu menghasilkan buah yang produktif. Di
samping kuantitas buah yang signifikan lebih banyak juga menghasilkan banyak
kandungan minyak. Pohon
kelapa dapat tumbuh pada ketinggian 0-1000 meter diatas permukaan laut. Ketinggian
tempat mampu mempengaruhi tingkat produktivitas kelapa. Hasil survei para ahli telah membuktikan bahwa
pohon kelapa yang tumbuh pada ketinggian 0 - 200 m di atas permukaan laut, waktu berbuahnya
jauh lebih cepat, produksi buahnya pun lebih banyak, serta memiliki kandungan
minyak yang tinggi dibanding dengan pohon kelapa yang tumbuh pada ketinggian 200 - >300 m dari permukaan laut. (Junaedi.2009)
Menurut
sebagian ahli sejarah yakni D.F Cook, Van Martius Beccari dan Thoor Herjerdhl dalam Junaedi (2009), kelapa berasal dari Amerika Selatan, naun
menurut sebagian lagi yakni menurut Berry Werth, Mearil, Mayurathan, Lepesma,
dan Pureseglove berpendapat asal kelapa adalah berasal dari Indopasifik.
B. Jenis Kelapa
1. Kelapa Dalam ( tall coconut )
Kelapa
dengan jenis kelapa dalam dari bentuk fisiknya saja sekilas sudah dapat kita
bedakan atau cirikan. Pada jenis ini batangnya begitu tinggi hampir 30 m atau
lebih, kelemahan dari jenis ini ketika usia kelapa telah mencapai 8-10 tahun
maka produktivitas buah mulai menurun, walaupun usianya mampu mencapai hingga
100 tahun lebih. Namun komoditas lain yang di hasilkannya cukup tinggi.
Jangka waktu satu tahun, jenis kelapa dalam mampu memproduksi kopra sampai sekitar 1 ton
pertahun: setiap satu pohon kelapa jenis ini menghasilkan 90 butir buah kelapa
dalam jangka waktu setahun. Tall coconut
ini memiliki keunggulan dalam hal ketebalan daging serta kandungan minyak yang
di hasilkan jauh lebih banyak bila di bandingkan dengan jenis lainnya (Junaedi. 2009).
Varietas kelapa terdiri dari:
§
Kelapa hijau (varidis)
§
Kelapa merah (rubescens)
§
Kelapa kelabu (macrocorpu)
§
Kalapa (manis
sakarina)
2. Kelapa genjah
Berbeda
dengan kelapa dalam di
atas, kelapa jenis genjah ini cenderung lebih rawan dari penyakit dan hama.
Kondisinya sangat mudah merespon situasi lingkungannya yang kurang baik. Buah
yang di hasilkan pun relatif lebih rendah bila di bandingkan dengan jenis
lainnya. Berat hanya sekitar 130 gr perbuah sementara minyak di hasilkan pun
kurang lebih hanya sekitar 65 % saja kandungannya dari bobot kelapa keringnya.
Jenis ini memang mudah dan lebat dalam berbuah, namun begitu kondisinya mudah
terpengaruh fluktuasi cuaca (Rukamana,
Rahmat dan Yudirachman, Herdi., 2004)
Varietas kelapagenjah terdiri dari:
§
Kelapa gading (eburnea)
§
Kelapa raja (regia)
§
Kelapa puyuh ( pumila)
§
Kelapa raja malabar (pretiosa)
3. Kelapa hibrida
Varietas
yang ketiga ini di hasilkan dari perkawinan kedua jenis pohon kelapa di atas.
Varian ini adalah perkawinan yang menggabungkan dua keistimewaan kedua jenis di
atas sehingga menghasilkan kelapa produktifits tinggi. Hanya sekitar 4-6 tahun
saja jenis hibrida ini sudah
dapat menghasilkan. Pada umur 10 tahun adalah masa di mana kopra yang di
hasilkan sedang banyak-banyaknya yakni sekitar 6-7 ton pertahun. Jauh dari
induknya, hasil buah yang di produksi oleh jenis ini 140 butir kelapa
pertahunnya. Ada kurang lebih 12 tandan dalam setiap pohon tersebut dan di
setiap tandan berisi sekitar 10-20 butir kelapa. Tebal daging buahnya sekitar
1,5 cm (Rukamana, Rahmat dan
Yudirachman, Herdi., 2004).
C. Potensi Sosial Kelapa
Tanaman
kelapaa disebut sebagai tanaman “serba guna” (Tree of Life) karena setiap bagian tanaman dapat dimanfaatkan
untuk berbagai kebutuhan manusia. Nilai sosial kelapa mempunyai peranan penting
dalam dunia kesehatan. Beberapa manfaat kelapa bagi kesehatan adalah sebagai
berikut.
1. Daging Kelapa
Daging
kelapa mengandung berbagai macam enzim yang sangat berguna dalam pencernaan.
Misalnya, daging kelapa muda dicampur dengan pisang yang dilembutkan dan susu,
merupakan makanan tambahan bergizi bagi anak-anak, dan berkhasiat obat bagi
penderita sakit pencernaan, tukak lambung, kejang usus, sakit kuning, diare,
dan wasir. Mengunyah
sepotong kelapa yang masih segar bersama-sama dengan sedikit gula jawa dapat
memperkuat gusi dan mencegah sakit gigi pada anak-anak sampai batas usia
tertentu. Daging kelapa muda segar yang digiling kemudian ditambah satu gelas
air kelapa muda, gula batu, dan satu butir kapulaga; berkhasiat sebagai obat
rasa kering dalam dada, keseduan, tukak lambung, dan tidak bisa tidur. Daging
kelapa yang diletakkan pada bisul akan memberikan rasa dingin dan dapat sembuh
dengan cepat (Junaedi. 2009).
2. Santan
Santan
dari kelapa muda merupakan makanan yang berharga untuk anak-anak yang menderita
kekurangan protein dan vitamin D, serta tuberkulosis perut. Minum segelas
santan di pagi hari, kemudian disusul dengan minum minyak kastor sebanyak 25
gram; bermanfaat untuk membinasakan cacing pita (Rukamana,
Rahmat dan Yudirachman, Herdi., 2004).
3. Air Kelapa
Air
kelapa merupakan air yang steril, alamiah, dan mengandung kadar kalium dan
klhor yang tinggi. Air kelapa muda berkhasiat sebagai diuretik atau untuk
memperlancar pengeluaran air seni. Air kelapa muda dicampur dengan susu sangat
baik untuk makanan anak-anak, di antaranya berkhasiat mencegah penggumpalan
susu dalam perut, muntah, sembelit, dan sakit pencernaan. Air kelapa muda
dicampur dengan pisang dapat membantu mengatasi pengaruh racun-racun obat,
sulfa dan antibiotik, sehingga menjadikan obat-obat itu lebih cepat diserap
darah. Apabila rajin mencuci muka dengan air kelapa setiap hari akan
melenyapkan jerawat dan noda-noda hitam di wajah. Khasiat lain dari air kelapa
adalah mencegah kerut merut wajah, kulit mengering, dan menjadikan wajah
berseri (Rukamana, Rahmat dan
Yudirachman, Herdi., 2004).
D. Potensi Ekonomi Kelapa
Tanaman
kelapa juga mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi bagi pemenuhan kebutuhan
manusia. Potensi nilai ekonomi kelapa diantaranya adalah sebagai berikut;
1. Batang
Batang
kelapa terdiri atas jaringan pembuluh yang dikelilingi jaringan parenchime. Hal
ini membuat kayu kelapa memiliki nilai artistik. Batang kelapa dapat di gunakan
untuk kayu bakar karena komposisi kimia kayu kelepa terdiri atas karbon 50%,
hidrogen 6,2%, dan oksigen 43,2%; sehingga jika di jadikan kayu bakar mempunyai
nilai panas yang sama dengan kayu yang lain. Di samping itu, kayu kelapa sangat
baik di buat arang. Makin keras kayu, maka mutu arangnya makin baik. Batang
kelepa yang paling baik menghasilkan arang adalah bagian pangkalnya yang
mempunyai struktur sangat keras. Arang kayu kelapa dapat di olah lebih lanjut
menjadi arang aktif dan arang briket (Junaedi.
2009).
Batang kelapa juga dapat di olah menjadi bahan bangunan
seperti balok dan kasok atau papan; yang selanjutnya dapat di buat
bermacam-macam bagian konstruksi bangunan. Di Philipina, kayu kelapa di
manfaatkan sebagai bahan bangunan rumah dalam berbagai jenis standar, dari
rumah murah sampai yang bertipe eksekutif. Di rumah tipe eksekutif
bagian-bagian konstruksi seperti tangga, lantai, jendela di buat dari kayu
kelapa. Hiasan perabot untuk kantor, rumah dan meja sekolah, serta gagang
alat;juga di buat dari batang kelapa pada skala pabrik. Selain itu, kayu kelapa
juga dapat di gunakan untuk pagar, rumah penjaga, dan tiang listrik. Pada
umumnya kayu kelap yang keras (tua) mudah di kerjakan yang masih segar. Untuk
memperoleh kayu kelapa yang licin, di perlukan penggunaan kertas pasir sebelum
di vernis atau di cat dan wax (Rukamana,
Rahmat dan Yudirachman, Herdi., 2004).
2. Bunga dan Buah
Dari tangkai bunga dapat di hasilkan nira
kelpa. Nira kelapa yang di ambil dengan cara di sadap merupakan minuman yang
menyegarkan dan berkhasiat sebagai obat. Di samping itu, Nira kelapa dapat di
olah menjadi gula kelapa atau gula mangkok. Gula kelapa telah menjadi komoditas
ekspor. Kulit atau sabut kelapa dapat di olah menjadi serat sabut kelapa (cocofibre), ampas sabut kelapa (cocodust), airfilter, cocopeat, cocomat,
coir mats, matting, rugs,tali, jaring
pot, bahan baku kasur dan konstruksi beton, dan lain-lain. Dari 10 kg sabut
kelapa dapat di hasilkan 11 kg cocofibre dan 2,5 kg cocopeat. PT Raja Albbatros mas (RAM) di Medan mengekspor kedua
produk tersebut ke Australia, Korea Selatan, dan Malaysia sebanyak 40-50
ton/bulan (Junaedi. 2009).
Sabut
kelapa juga dapat di olah menjadi medium tanam (cocopeat). Pengolahan sabut kelapa akan menghasilkan serat untuk
bahan pengisi kasur pegas dan jok mobil, serta di buat pot dan keset. Serbuk
yang merupakan hasil sampingan saat membersihkan sabut kelapa menjadi serat,
dapat di manfaatkan sebagai medium tanam (cocopeat). Daging (endosperm) kelapa dapat di buat
santan, kelapa parut kering (Desiccated
Coconut = DC), dan minyak kelentik. Santan kelapa dari perasan buah kelapa
merupakan penyedap bahan makanan di jutaan rumh tangga. Santan juga menjadi
komoditasekspor ke Eropa, Singapura, dan Malaysia. Air kelapa dapat di buat nata de coco,semacam kolang-kaling yang
saat ini menjadi komoditas ekspor, di jual dalam kemasan tetrapackke Cina dan
Taiwan. (Junaedi. 2009).
Tempurung
(batok) kelapa dapat di olah menjadi arang batok kelapa, arang aktif, bahan
karbon aktif, dan nyamuk bakar. Di luar negeri, karbon aktif antara lain di
gunakan untuk penjernih minyak goreng dan bahan baku obat seperti norit (obat
diare). Arang batok kelapa banyak di butuhkan oleh industri pengecoran besi;
yang setiap bulan Indonesia membutuhkan 300 ton (Dinas Perkebunan,1999).
Beberapa
industri yang juga membutuhkan arang batok kelapa adalah tambak udang, tekstil,
karbon aktif, dan minyak goreng. Untuk menghasilkan 1 kg arang di butuhkan 4 kg
tempurung (batok) kelapa. Saat ini arang bermutu telah di hasilkan melalui
proses teknologiWaste Heat Recovery Unit (WHU) untuk mengurangi polusi udara
berupa asap tebal beracun. Di Jepang arang batok kelapa di sebut “binchoitan”, banyak tersedia di toserba
dan toko bahan bakar di bagian alat perkemahan (Junaedi. 2009).
3. Daun
Daun
kelapa sering di gunakan oleh masyarakat desa untuk atap rumah, sapu lidi,
bahan anyaman, dan pembugkus ketupat. Di Kawasan Timur Indonesia (KTI), daun kelapa kering dengan seluruh batang daunnya
banyak di gunakan untuk rumpon laut untuk memudahkan dalam menangkap ikan-ikan
tuna, cakalang, dan ikan-ikan karang (Junaedi.2009).
4. Akar
Akar
tanaman kelapa terdiri atas akar-akar serabut. Gabungan akar-akar tersebut
masing-masing masuk ke dalam tanah untuk mengisap zat makanan. Akar tanaman
kelapa dapat di gunakan sebagai bahan obat-obatan dan zat pewarna. Nilai sosial dan ekonomi dari setiap bagian
tanaman kelapa dapat di tingkatkan dengan strategi kegiatan agrobisnis dan
agroindustri. Untuk maksud tersebut perlu di kembangkan paket teknologi
pengolahan yang tepat guna, sehingga sasaran akhir dapat meningkatkan
pendapatan dan kesejahteraan petani kelapa serta membangun ekonomi rakyat (Junaedi.2009).
E. Kelapa Sebagai
Bioindustri Potensial Indonesia
Jika anda
berjalan-jalan ke pulau Sumatera, pasti anda akan sering menjumpai pohon kelapa
ada dimana-mana. Sejauh ini pemanfaatan kelapa di Sumatera masih sangat
terbatas baik oleh penduduk maupun pemerintah daerah. Umumnya kelapa tersebut
hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan (santan kelapa) ataupun minuman (es
kelapa muda) yang nilai tambah secara ekonomi tergolong rendah. Hal ini tidak
terlalu beda jauh dengan pemanfaatannya secara umum di Indonesia, yang masih
berkutat pada produk makanan dan minuman (Anonim.
2012. http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_pangan/kelapa-sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/).
Hal ini
sebenarnya sangat disayangkan. Karena potensi kelapa untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dan memperluas lapangan pekerjaan cukup menjanjikan.
Berbagai produk komersial dari bioindustri kelapa sangat beranekaragam selain
daripada produk makanan dan minuman. Pemanfaatan tersebut antara lain liquid
smoke atau asap cair (alternatif bahan pengawet pengganti formalin), produk
Virgin Coconut Oil (VCO), biodiesel, adsorben, produk minyak goreng,
produk sabun, serat sabut kelapa, beriket arang (pengganti briket batubara),
produk nata de coco, produk karbon aktif, dan lain-lain. Dengan pemodalan yang
cukup dari pemerintah atau swasta, kesemuaan produk tersebut dapat menjadi bioindustri
rakyat yang potensial (Sinly Evan Putra, 2008. dalam (Anonim. 2012. http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_pangan/kelapa-sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/).).
1.
Asap
Cair (Liquid Smoke)
Seiring dengan
telah diketahuinya dampak negatif dari bahan pengawet formalin bagi kesehatan,
maka diperlukan alternatif penggantinya. Alternatif yang sekarang sedang marak
diproduksi adalah asap cair dari tempurung kelapa. Asap cair ini mengandung
lebih dari 400 komponen kimiawi yang memiliki fungsi sebagai pengawet alami
melalui sifat antimikrobial dan antioksidannya. Dari 400 komponen kimiawi
tersebut, yang paling berperan dalam pengawetan adalah senyawa asam, fenol, dan
karbonil dengan komposisi masing-masing adalah 10,2%, 4,13% dan 11,3%. Produk
asap cair ini dapat digunakan untuk mengawetkan ikan, daging, sayuran, buah-buahan
ataupun sebagai pengeras/pengawet karet dan anti rayap dalam industri kayu (Anonim. 2012. http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/ kimia_pangan/kelapa-sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/).
2.
Virgin Coconut Oil
(VCO)
Virgin
Coconut Oil (VCO) atau minyak
kelapa murni merupakan salah satu produk dari sari pati kelapa yang telah
diketahui sangat baik bagi kesehatan. Minyak ini dihasilkan dengan cara memeras
buah kelapa segar untuk mendapatkan minyak tanpa dimasak. Keuntungan proses ini
adalah minyak yang diperoleh dapat tahan sampai 2 tahun tanpa menjadi tengik.
Kandungan VCO yang hampir 50% mengandung asam laurat (C-12) menyebabkan efek
kesehatan dari VCO hampir sama dengan air susu ibu (ASI). Hal ini dikarenakan
asam laurat dalam tubuh manusia akan diubah menjadi monolaurin. Monolaurin
sendiri bersifat sebagai antivirus, antibakteri dan antiprotozoa. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa monolaurin dapat merusak membran lipid virus
diantaranya virus HIV, influenza, Hepatitis C, dan cytomelagovirus (Timoti, Hana. 2005).
3.
Biodiesel
Kelapa
Pemanfaatan
kelapa yang juga tidak kalah menariknya adalah sebagai bahan baku biodiesel.
Dari penelitian oleh Mahasiswa dari Brigham Young University, untuk mendapat
kan 1 liter biodiesel diperlukan 10 buah kelapa dengan produk sampingnya berupa
glycerin. Glycerin ini selanjutnya dapat digunakan untuk bahan dasar pembuatan
sabun. Untuk di Indonesia, pengkajian pembuatan biodiesel dari kelapa telah
dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Departemen
Perindustrian. Dalam pengkajian tersebut diketahui bahwa kelapa dapat digunakan
sebagai alternatif pengganti solar (coco diesel). I liter solar dalam coco
diesel ini dapat diperoleh dari pengolahan 6 butir kelapa. Uji coba coco
diesel ini juga telah diujicobakan pada kendaraan Mitsubishi dan mencapai
jarak sampai 20 ribu km nonstop, dan dinyatakan lulus uji. Saat diadakan uji
ketahanan (performance) kendaraan hanya mengalami turun daya 4% (Anonim. 2012. http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_pangan/kelapa-sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/).
4.
Kelapa
sebagai Adsorben
Di kalangan
kimiawan dan pakar lingkungan hidup, kelapa juga dapat didayagunakan sebagai
adsorben/penyerap. Untuk polutan yang masuk ke tubuh manusia seperti keracunan pestisida
ataupun kation logam seperti Pb, Hg, Cd, dan sebagainya, air kelapa sangat
dianjurkan untuk diminum. Hal ini dikarenakan air kelapa dapat menetralkan
racun sebagaimana susu (Anonim. 2012.http://www.chem-is-try.org/artikel_ kimia/kimia_pangan/kelapa-sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/).
Untuk polutan
yang masuk ke lingkungan hidup, bagian dari sabut dan tempurung kelapa sangat
potensial didayagunakan sebagai adsorben terutama untuk polutan logam berat
yang sangat berbahaya bagi manusia (Anonim. 2012.http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_pangan/ kelapa-sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/).
5.
Produk
Minyak Goreng
Minyak kelapa
juga digunakan sebagai kebutuhan harian rumah tangga, seperti sabun, kosmetik
dan shampoo. Hal ini disebabkan karena asam lemak yang terkandung dalam minyak
kelapa membuat larutan yang baik untuk krim dan deterjen.Minyak kelapa
mengandung asam lemak yang merupakan anti mikroba dan merupakan satu campuran
yang disebut 'sukrosa cocoate',
yang berfungsi untuk melembabkan. Minyak ini digunakan untuk perawatan kulit
seperti untuk meredakan inflamasi misalnya eksim dan psioriasis. Krim untuk
kulit kepala dan shampoo mengandung minyak kelapa termasuk zat Cocois dan
Capasal. Sukrosa cocoatejuga ditambahkan dalam persiapan farmasi karena dapat
membantu tubuh menyerap jenis-jenis obat tertentu (Anonim. 2012. www.plantcultures.org).
6.
Produk
Sabun
Glycerin
merupakan produk samping dari kelapa. Glycerin berbentuk cairan jernih, tidak
berbau dan memiliki rasa manis. Glycerin dalam industri dijadikan sebagai bahan
baku pembuatan sabun. Karena sifatnya sebagai humektan, sehingga glycerin dalam
sabun berfungsi sebagai pelembab kulit. Dalam skala rumah tangga, sabun dapat
dibuat sendiri dengan bahan-bahan yang Terjangkau dan dapat diperoleh di
toko-toko bahan kimia (Anonim. 2012.http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_pangan/kelapa-sebagai -bioindustri-potensial-indonesia/).
7.
Serat
Sabut Kelapa
Sabut kelapa
merupakan bagian terbesar dari buah kelapa yaitu 35% dari bobot buah kelapa.
Sabut kelapa jika diolah dengan baik akan menghasilkan serat sabut kelapa.
Karena sifat fisika dan kimia serat yang dimiliki oleh sabut kelapa ini,
sehingga membuat bahan baku alamiah ini mulai dimanfaatkan sebagai bahan baku
industri karpet, jok, dashboard kendaraan, kasur, bantal, dan hardboard.
Pemanfaatan sabut kelapa lain yang tidak kalah menarik adalah sebagai coco
peat yaitu sabut kelapa yang diolah menjadi butiran-butiran gabus sabut
kelapa. Coco peat dapat menahan kandungan air dan unsur kimia pupuk,
serta dapat menetralkan keasaman tanah. Karena sifat tersebut, sehingga coco
peat dapat digunakan sebagai media yang baik untuk pertumbuhan tanaman
hortikultura dan media tanaman rumah kaca (Anonim. 2012.http://www.chem-is-try.org/artikel_ kimia/kimia_pangan/kelapa-sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/).
8.
Briket
Arang Tempurung Kelapa
Dengan naiknya
harga bahan bakar minyak (BBM) dan gas elpiji baru-baru ini, menyebabkan
masyarakat harus mencari sumber energi alternatif lain yang jauh lebih murah.
Untuk tujuan ini, briket arang dari tempurung kelapa layak untuk
diperhitungkan. Briket arang sangat potensial sebagai penganti minyak tanah dan
gas elpiji sekaligus juga sebagai pengganti briket batubara, dikarenakan secara
teknis, briket arang mudah dibuat, tidak memerlukan teknologi tinggi dan yang
paling utama harganya jauh lebih murah (Anonim. 2012.http://www.chem-is-try.org/artikel_ kimia/kimia_pangan/kelapa-sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/).
9.
Produk
Makanan dan Minuman
Produk makanan
dan minuman dari kelapa sangatlah beraneka ragam diantaranya nata de coco
yaitu krim yang berasal dari air kelapa yang terbentuk dari aktivitas
fermentasi gula oleh bakteri acetobacter. Hasil fermentasi bakteri ini akan
membentuk gel pada permukaan larutan air kelapa. Selain nata de coco,
terdapat juga produk cuka, sirup, kecap, dan minuman berenergi dari sari buah
kelapa (Anonim. 2012. www.plantcultures.org).
Selain dalam
bentuk produk olahan, kelapa juga dapat dinikmati dalam bentuk kelapa segar
seperti es kelapa muda. Untuk anda yang tertarik dalam berbisnis kelapa muda,
banyak metode pengawetan kelapa muda yang telah dikembangkan. Salah satu
metodenya adalah dengan merendam buah kelapa muda dalam larutan antioksidan dan
anti jamur, sehingga dapat awet selama 4 minggu tanpa berkurang mutunya. Dengan
pengemasan yang baik, produk ini dapat dijual ke hotel-hotel ataupun
tempat-tempat kunjungan wisatawan (Sinly Evan Putra, (2008) dalam Anonim.
2012.http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_ pangan/kelapa- sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/).
F. Kerangka Pikir
Kelapa merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat bagi
kehidupan manusia. Namun manfaat tersebut tidak terlepas dari beberapa faktor
yang menjadi faktor pendorong dalam meningkatkankan manfaat kelapa secara maksimal. Faktor fisik dan faktor
sosial merupakan hal yang urgen untuk diperhatikan yang kemudian akan
menciptakan peluang di berbagai bidang dalam memanfaatkan kelapa secara
maksimal untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Pemanfaatan kelapa
merupakan hubungan ekologis manusia dengan lingkungan yang masing-masing memiliki
pengaruh satu sama lain. Untuk lebih jelas dan lebih spesifik dari pemanfaatan
kelapa akan tergambarkan dalam diagram di bawah ini;
Gambar 1. Diagram Kerangka Pikir
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Populasi Dan Sampel
1. Populasi
Dalam penelitian, populasi adalah jumlah keseluruhan dari
unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga. Menurut Saifuddin Azwar (1997) populasi
didefinisikan sebagai kelompok subjek yang hendak dikenai generalisasi dari hasil
penelitian.
Sumaatmadja (1988) berpendapat bahwa populasi adalah
keseluruhan gejala, individu kasus dan masalah yang kita teliti dilokasi
penelitian. Populasi dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu populasi target dan populasi akses. Populasi yang direncanakan dalam
rencana penelitian dapat disebut populasi target sedangkan populasi yang dapat
ditemui ketika dalam penentuan jumlah populasi berdasarkan keadaan yang ada
disebut populasi akses.
Sebagai
suatu populasi, kelompok subjek harus memiliki ciri-ciri ataw karakteristik-karakteristik
bersama yang membedakannya dari kelompok subjek yang lain. Ciri yang dimaksud
tidak terbatas hanya sebagai ciri lokasi akan tetapi dapat terdiri dari
karakteristik-karakteristik individu.
Populasi dalam penelitian ini
adalah semua penduduk yang memiliki perkebunan kelapa di Desa Garaupa Raya Kecamatan Pesilambena Kebupaten
Kepulauan Selayar.
2. Sampel
Sampel merupakan bagian dari keseluruhan
individu. Menurut Widoyo Alfandi (2001) sampel/cuplikan adalah sebagian dari
keseluruhan individu atau populasi yang menjadi objek penelitian.
Sampel secara
sederhana adalah sebagai bagian dari populasi yang menjadi data sebenarnya
dalam suatu penelitian atau bagian terkecil dari populasi. Sebagai bagian dari
populasi, sampel harus memiliki ciri-ciri yang dimiliki oleh populasinya. Apakah
suatu sampel merupakan representasi yang baik bagi populasinya sangat
tergantung pada sejauhmana karakteristik sampel itu sama dengan karakteristik populasinya.
Karena analisis penelitian didasarkan pada data sampel sedangkan kesimpulannya
nanti akan diterapkan pada populasi, maka sangatlah penting utuk memperoleh
sampel yang representatif bagi populasinya (Azwar, Saifuddin. 1997).
Untuk itulah diperlukan pemahaman mengenai teknik
pengambilan sampel yang tepat. Dimana apabila subjek atau populasi
kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehinga penelitian merupakan
penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil
antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih, tergantung dari : (1) kemampuan
peneliti dari segi waktu dan dana, (2) sempit luasnya wilayah pengamatan dari
setiap subjek, dan (3) besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti.
Jadi sampel dalam
penelitian ini adalah sebagian petani kelapa di
Desa Garaupa Raya yang bisa mewakili jumlah
populasi petani
kelapa secara keseluruhan di daerah tersebut.
B. Variabel Penelitian Dan Desain
Penelitian
1. Variabel penelitian
Variabel
adalah suatu sifat atau jumlah yang mempunyai nilai kategorial atau mempunyai
nilai yang dapat dinyatakan dengan bilangan. Variabel diartikan juga sebagai
lambang yang menyatakan bilangan atau faktor yang mengandung lebih dari satu
nilai (Alfandi, Widoyo. 2011).
Menurut Saifuddin Azwar (1997) bahwa variabel yaitu konsep
yang diberi nilai lebih dari satu nilai dan salah satu ciri pokoknya adalah
berbentuk diskrit (discrite) atau
variabel bersambung (continius).
Hasil pengukuran bisa tetap bisa pula berubah-ubah. Adapun variabel-variabel yang akan diteliti adalah aspek yang
mendukung aktivitas masyarakat Desa Garaupa Raya dalam memanfaatkan kelapa guna
meningkatkan pendapatan petani kelapa. Variabel yang digunakan adalah :
a.
Aspek Fisis yang meliputi
:
1.
Luas Lahan
2.
Jumlah Pohon Kelapa
3.
Jarak
b.
Aspek Sosial yang
meliputi :
1.
Penerimaan
2.
Pengeluaran
3.
Pendapatan
4.
Biaya
5.
Harga
2. Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan
gambaran atau strategi dalam mengatur atau mensetting penelitian sehingga
diperoleh hasil penelitian yang lebih baik. Desain penelitian dirancang
sedemikian rupa sehingga jelas arah penelitian yang dilakukan. Dengan dikemukakannya variabel tersebut,
maka disusunlah desain penelitian yang akan menjadi penuntun mulai dari
persiapan sampai pada akhir pelaksanaan penelitian. Agar penelitian ini tersusun secara sistematis
sebagaimana dijelaskan diatas, maka berikut ini tahapan-tahapan dari
penelitian sebagai berikut;
- Tahap persiapan
Tahap
ini merupakan langkah awal dengan melakukan berbagai persiapan seperti
merumuskan masalah, menentukan judul, penentuan populasi, sampel, variabel
penelitian, seminar proposal, kemudian membuat daftar pertanyaan ( kuosioner )
serta mengurus surat izin penelitian.
- Tahap pengumpulan data
Pada
tahap ini dilakukan pengumpulan data di lapangan yakni dengan observasi
terhadap objek penelitian serta melakukan wawancara dengan menggunakan
kuesioner atau daftar pertanyaan.
- Pengolahan data
Pada
tahap ini semua data yang telah diperoleh dilapangan dikumpulkan kemudian
dilakukan pemeriksaan dan perbaikan lalu ditabulasi dalam bentuk tabel sesuai
dengan kebutuhan kemudian dianalisis secara deskriptif.
- Penyusunan hasil penelitian dalam bentuk skripsi.
C. Definisi Operasional Variabel
Untuk menghindari kerancuan
dalam menafsirkan atau meng-interpretasikan variabel-variabel dan untuk
memperjelas terhadap permasalahan yang akan di teliti secara empiris dalam
penelitian (Alfandi, Widoyo. 2001). Maka di berikan pengertian
secara operasional terhadap variabel serta aspek yang di kaji.
a.
Luas lahan
Lahan merupakan luas tanah (Land)
yang digunakan untuk usaha pertanaman kelapa yang dinyatakan dalam hektar (ha).
b.
Jumlah Pohon kelapa
Jumlah tegakan pohon kelapa yang berada dalam suatu satuan lahan yang dinyatakan dengan jumlah pohon/ha.
c.
Jarak
Jarak adalah
angka yang menunjukkan letak dan persebaran
lokasi unit-uit usaha dari rumah petani dan lokasi penjualan-penjualan hasilnya
yang dinyatakan dalam kilometer (km).
d.
Biaya
Biaya adalah jumlah
ongkos-ongkos yang dikeluarkan oleh petani mulai dari awal suatu produksi
sampai terjadinya transaksi penjualan barang yang dinyatakan dengan rupiah (Rp).
e.
Harga
Harga
adalah nilai barang dari hasil
produksi kelapa ditingkat petani yang dinyatakan dengan rupiah (Rp).
f.
Penerimaan
Penerimaan merupakan jumlah uang yang diperoleh dari penjualan sejumlah output atau dengan kata
lain merupakan segala pendapatan yang diperoleh oleh petani kelapa dari penjualan hasil produksinya yang dinyatakan
dengan rupiah (Rp).
g.
Pengeluaran
Pengeluaran dalam
penelitian ini yaitu semua biaya-biaya yang dikeluarkan dalam mengembangkan
usaha pemanfaatan kelapa yang dinyatakan dengan rupiah (Rp).
h.
Pendapatan
Pendapatan dalam penelitian ini adalah jumlah uang yang didapatkan petani kelapa
dari hasil produksi setelah dikurangi pengeluaran selama satu kali panen ataw
produksi yang dinyatakan dengan rupiah (Rp).
D. Teknik Pengambilan Data
Data merupakan faktor yang sangat penting
dalam penelitian. Maksud dari pengumpulan data adalah untuk memperoleh
bahan-bahan yang relevan, akurat sesuai dengan objek penelitian. Untuk
memperoleh data yang dimaksud itu digunakan teknik yang dapat diandalkan. Dalam
penelitian ini teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut;
1. Teknik Observasi
Teknik ini di lakukan dengan cara pengamatan
secara langsung di lokasi unit-unit usaha degan cara plotting, pemetaan,
pemotretan, terhadap kebun-kebun kelapa dengan berbagai aktivitas produksi
serta hasilnya.
2. Teknik Dokumentasi
Teknik ini tidak kalah pentingnya untuk
melengkapi data sekunder yang telah ada
sebelumnya berupa data dari Desa atau dari instansi
terkait seperti data penduduk, peta administrasi desa dan peta administarai kecamatan dari kantor
kecamatan Pasilambena serta data petani kelapa yang ada di Desa Garaupa Raya. Teknik ini mendokumentasikan semua data yang di butuhkan dalam penelitian
termasuk kondisi-kondisi fisik dan sosial wilayah penelitian
3. Teknik Wawancara
Teknik ini dilakukan dengan cara wawancara langsung dengan petani kelapa menggunakan kosioner atau daftar pertanyaan
guna mendapatkan data primer petani kelapa di Desa Garaupa Raya Kecamatan
Pasilambena Kabupaten
Kepulauan Selayar secara langsung.
E. Teknik Analisis Data
Setelah melakukan pengumpulan data di lapangan selanjutnya di lakukan analisis
data. Dalam analisis data ini
penulis menggunakan analisis data gabungan antara
analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif atau lebih dikenal dengan mixed methods. Strategi
pendekatan metode gabungan (mixed methods) timbul karena adanya
kesadaran bahwa semua metode memiliki keterbatasan. Peneliti merasa bahwa bias
yang timbul dari penggunaan satu metode dapat dinetralisir oleh bias yang
timbul dari penggunaan metode lain. Selain itu, penggunaan beberapa jenis data
diyakini dapat memperjelas data analisis yang dilakukan (Wikipedia, 2012. http//Paradigma_Penelitian.com).
Dengan menggunakan mixed
methods tersebut di atas, maka data yang di peroleh
akan memberikan gambaran secara deskriptif tentang aspek-aspek yang menjadi fokus penelitian yang kemudian akan memberikan
jawaban atas masalah yang sedang di teliti sehingga data tersebut dapat di
analisis dengan menginterpretasikan kedalam suatu urutan dasar berupa suatu
kesimpulan dan saran.
1. Analisis keuntungan
Menurut Prasad, Abd. Hallaf Hanafi (2002) untuk analisis keuntungan digunakan persamaan keuntungan
atau profit, sebagai berikut:
π = TR – TC
dimana : π
= Keuntungan
TR = Total Revenue
TC = Total Cost
Penerimaan (Revenue) adalah jumlah produk yang
diperoleh dikalikan dengan harga rata-rata, dengan rumus:
TR = Y .
Py
Dimana : TR = Total Revenue
Y =
Produk
Py =
Harga produk
Biaya total adalah jumlah
biaya tetap dan biaya variabel yang dikeluarkan selama proses produksi. Biaya
variabel dihitung dengan menjumlahkan hasil perkalian tiap jenis bahan produksi
atau pengeluaran-pengeluaran selama proses produksi yang bukan untuk
pembentukan modal tetap (Prasad,
Abd. Hallaf Hanafi. 2002).
Biaya tetap, khususnya
niolai penyusutan barang-barang modal, dihitung dengan rumus berikut:
Dimana : NP = Nilai penyusutan
Nb = Nilai beli
Ns = Nilai sisa
Ti =
Tahun pakai
2. Analisis kelayakan Usaha
Analisis kelayakan usaha
digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian usaha dalam penerapan kegiatan
pemanfaatan kelapa. Sebagai tolak ukur adalah nisbah penerimaan dan biaya atau
R/C ratio. Apabila R/C ratio >1, maka usaha layak secara finansial (Prasad, Abd. Hallaf Hanafi. 2002). Secara sederhana dapat ditulis:
R = Py.Y
C = FC + VC
R/C = {(Py.Y) / (FC+VC)}
Keterangan :
R = Penerimaan
C = Biaya
Py = Harga Output
Y = Output
FC = Biaya Tetap
VC = Biaya tidak tetap
Jika R/C ratio > 1 maka dikatakan layak
Jika R/C ratio < 1
maka dikatakan tidak layak, dan
Jika R/C ratio = 1 maka
dikatakan impas ( tidaka untung maupun merugi
3. Analisis pendapatan
perkapita per bulan dan / atau per tahun
Tujuan analisis ini
dilakukan untuk mengetahui tingkat penghasilan dari usaha pemanfaatan kelapa
yang dapat memberikan kesejahteraan bagi rumah tangga (keluarga) pengusahanya (Prasad, Abd. Hallaf Hanafi. 2002).
4. Klasifikasi dan
kategorisasi tingkat kesejahteraan
Tingkat kesejahteraan
rumah tangga (keluarga) pengusaha diklasifikasikan berdasarkan kriteria dan
kategori garis kemiskinan Sojogjo (1970) dan Dirjen Agraria (I Made Sandy,
1979) dalam (Prasad, Abd.
Hallaf Hanafi. 2002).
DAFTAR
PUSTAKA
Alfandi,
Widoyo. 2001. Epistemologi Geografi.
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Anonim. 2012. http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/07/manfaat-minyak-kelapa-dan-khasiatnya.html.
Diakses Tanggal 14 Februari 2012.
Anonim. 2012. http://ditjenbun.deptan.go.id/bbp2tpmed/index.php?option= com_content&view=article&id=125:budidaya-tanaman-kelapa.
Diakses Tanggal 14 Februari 2012.
Anonim.
2012. http://food.oregonstate.edu/faq/plant/coconut3.html. Diakses tanggal 25
Apri 2012.
Anonim.
2012. http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_pangan/kelapa-sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/. Diakses tanggal
25 Apri 2012.
Anonim. 2012. http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=7.
Diakses tanggal 14 Februari 2012.
Azwar,
Saifuddin. 1997. Metode Penelitian. Pustaka
Pelajar Offset, Yogyakarta.
Dinas Perkebunan. 1999. Budi Tanaman Kelapa. Dinas Perkebunan Prop. Dati I Sul-Sel.
Dinas Perkebunan. 1999. Hama Dan Penyakit Penting Tanaman Kelapa Di Sulawesi Selatan. Dinas
Perkebunan Prop. Dati I Sul-Sel Ujung Pandang.
Dinas Perkebunan. 1999. Kelapa Pohon Kehidupan. Dinas Perkebunan Prop. Dati I Sul-Sel.
Dinas Perkebunan Sulawesi Selatan. 1996. Buku I Pembakuan Kegiatan Budi Daya Tanaman
Perkebunan. Sulawesi Selatan.
Direktorat Jenderal Perkebuan. 1986. Pedoman Praktis Pembibitan Dan Pemeliharaan Kelapa Hibrida. Direktorat Jenderal Perkebunan
Nasional, Jakarta.
Prasad,
Abd. Hallaf Hanafi. 2002. Analisis
Ekonomi Usaha Penangkapan Ikan Di Kawasan Terumbu Karang Wakatobi. Thesis
Prodi Ekonomi Sumber Daya, Universitas Hasanudin.
Junaedi. 2009. Memanfaatkan Semua Bagian Pohon Kelapa. Dea Pustaka, Bandung.
Media Pekebunan. 1998. Perkebunan
Merubah Wajah Riau. PT. Provita Prakarya Sembada, Jakarta.
Rukamana, Rahmat dan Yudirachman, Herdi., 2004. Budi Daya Kelapa Kopyor. Aneka Ilmu,
Semarang.
Setyamidjaja,
Djoehana. 1985. Bertanam Kelapa Hibrida.
Kanisus, Yoyakarta
Soeriaatmadja,R.E., 1997. Ilmu Lingkungan. ITB, Bandung.
Timoti, Hana.
2005. Aplikasi Teknologi Membran Pada
Pemuatan Virgin Coconut Oil (VCO). Pt Nawapanca Adhi Cipta. Pdf
Wariso.
2003. Budi Daya Kelapa Genjah. Kanisus,
Yogyakarta.
Wikipedia,
2012. http//Paradigma_Penelitian.com. Diakses tanggal 14 Februari 2012.