Jumat, 26 September 2014

Proposal=Studi-Geografi-Pemanfaatan-Pohon-Kelapa-didesa-Garaupa-Raya





PROPOSAL

STUDI GEOGRAFI EKONOMI TERHADAP PEMANFAATAN POHON KELAPA DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI KELAPA
DI DESA GARAUPA RAYA KECAMATAN PASILAMBENA
KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR








SUHARDIN. B
081 514 010











PRODI GEOGRAFI
JURUSAN GEOGRAFI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2012




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kemajuan pesat yang dicapai dalam pembangunan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat ternyata di iringi oleh kemampuan sumber daya alam sebagai penyangga kehidupan. Sumber daya alam sebagai faktor penunjang dalam mensejahterakan masyarakat ternyata belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sepenuhnya. Upaya pemanfaatan  sumber daya merupakan aspek penting dalam pembangunan nasional karena hal tersebut merupakan sumber segala kebutuhan masyarakat baik dalam bidang ekonomi, politik, maupun dalam bidang sosial budaya.
Menurut Rahmat Rukmana, Indonesia merupakan negara produsen kelapa terbesar di dunia, di ikuti Filipina, India dan Srilangka. Sebagai penghasil kelapa terbesar, menuntut pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan untuk mengembangkan mutu kualitas kelapa sehingga kuantitas kelapa bukan menjadi salah satu tolak ukurnya. Di samping itu, pemerintah dan masyarakat juga harus berusaha mengembangkan risetnya, sehingga dari waktu ke waktu selalu dihasilkan varietas kelapa unggulan. Karena ikatan ekologis manusia dengan lingkungan sekitarnya akan selalu dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya, dimana manusia dengan sumber daya yang ada akan bisa bertahan hidup dan mampu mengembangkan riset yang ada, sedangkan sumber daya akan dijaga dan dilestarikan serta dikelola sebagai mana mestinya oleh manusia yang bertanggungjawab.
Bukanlah sebuah hal yang asing di dengar, ketika disebutkan bahwa pohon kelapa adalah sebuah pohon yang kaya akan manfaat dan kegunaan, namun merupakan hal yang aneh jika di negeri yang kaya ini yang tergolong negeri dengan iklim tropis merupakan iklim yang kondusif untuk pertumbuhan pohon ini, namun pemanfaatannya justru di anggap produksi sampingan oleh sebagian dari para usaha warga negara ini. Sehingga potensi alam yang begitu besar untuk di kembangkan dalam menunjang kesejahteraan masyarakat belum juga tercapai sesuai dengan harapan yang ada. Alam yang luas dan kaya akan sumber daya alam memiliki peluang besar dalam meningkatkan pendapatan masyarakat khususnya petani kelapa. Hal tersebut bukanlah hal yang sulit dilaksanakan selama pola pikir manusia tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ekologis kehidupan.
Kabupaten Kepulauan Selayar sebagai wilayah kepulauan merupakan salah satu wilayah produsen kelapa terbesar di Sulawesi Selatan, terkhusus di Desa Garaupa Raya Kecamatan Pasilambena yang rata-rata penduduknya berprofesi sebagai petani kelapa. Sebagai tanaman mayoritas di wilayah tersebut idealnya masyarakat mampu memaksimalkan pemanfaatan kelapa seperti yang yang terjadi di wilayah Kepulauan Riau dimana tanaman dijadikan sebagai tanaman produktif dalama meningkatkan pendapatan masyarakat disana. Namun hal tersebut belum terjadi secara total di Desa Garaupa Raya sehingga pendapatan petani kelapa belum terlalu maksimal. Beberapa masalah kemudian muncul sebagai faktor penghambat baik dalam pemanfaatan kelapa maupun dalam meningkatkan pendapatan petani kelapa. Permasalahan tersebut diantaranya masyarakat belum menyadari dan memanfaatkan bagian pohon kelapa secara menyeluruh, persaingan pasar semakin menigkat yang membuat hasil produksi tanaman kelapa menjadi turun,  dan perbandingan jumlah penduduk dengan luas dan jumlah pohon kelapa yang tidak sebanding.
Hal tersebut di atas berdampak pada seluruh bidang kehidupan masyarakat baik pada bidang ekonomi, sosial maupun budaya yang ada dalam masyarakat. Pada keadaan sosial, kelapa sebagai alat penunjang dalam beberapa kebutuhan dasar masyarakat yang dijadikan sebagai alat bangunan rumah, minyak goreng, makanan ringan, dan berbagai kebutuhan pokok masyarakat.
Dari segi ekonomi, sebagian besar pendapatan masyarakat bersumber dari hasil pertanian kelapa, baik itu dari hasil penjualan kelapa dalam bentuk kopra ataupun dari berbagai jenis lain dari kelapa  yang memiliki nulai jual dalam masyarakat. Terakhir pada keadaan budaya yang tidak terlepas dari kehidupan masyarakat dimana beberapa bagian pohon kelapa dijadikan sebagai alat pada beberapa ritual dan acara adat masyarakat.
Oleh karena itu, kelapa sebagai tanaman yang memiliki dan berpengaruh pada kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat seharusnya mampu dimanfaatkan secara maksimal dalam menciptakan dan memwujudkan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan beberapa uraian diatas, maka kami berniat untuk mengadakan penelitian dengan judul “Studi Pemanfaatan Pohon Kelapa Dalam Meningkatkan Pendapatan Petani Kelapa Di Desa Garaupa Raya Kecamatan Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka terdapat beberapa rumusan yang dapat disimpulkan yaitu;
1.      Bagaimana pemanfaatan kelapa di Desa Garaupa Raya Kecamatan Pasilambena?
2.      Bagaimana sumbangan kelapa terhadap tingkat pendapatan petani kelapa?
3.      Faktor-faktor apa yang berpengaruh sehingga produksi kelapa tidak maksimal dalam meningkatkan pendapatan petani kalapa?

C.    Tujuan Penelitian
Merujuk pada latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka terdapat beberapa hal yang ingin dicapai dalam penelitian ini yang kemudian dijadikan sebagai tujuan penelitian yaitu;
1.      Mengetahui manfaatan kelapa di Desa Garaupa Raya Kecamatan Pasilambena.
2.      Mengetahui sumbangan kelapa terhadap tingkat pendapatan petani kelapa.
3.      Mengetahui faktor-faktor apa yang berpengaruh sehingga produksi kelapa tidak maksimal dalam meningkatkan pendapatan petani kalapa.

D.      Manfaat Penelitian
Beberapa manfaat yang dapat dijadikan sebagai patokan dalam pencapaian penelitian ini adalah;
1.      Dapat mengetahui sejauh mana manfaat kelapa dalam meningkatkan pendapatan petani kelapa.
2.      Bagi mahasiswa yaitu dapat dijadiakan sebagai referensi pembelajaran dalam menganalisis potensi di Kabupaten Kepulauan Selayar.
3.      Bagi masyarakat yaitu dapat mengetahui besarnya manfaat kelapa dalam kehidupan ekonomi, politik, maupun sosial dan budaya.
4.      Bagi pemerintah yaitu dapat mengetahui potensi daerah serta mengelolahnya dalam meningkatkan pendapatan daerah.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A.      Sejarah Pohon Kelapa
Kelapa adalah salah satu keluarga dari palm yang dapat tumbuh hingga ketinggian 1000 m dari permukaan laut yang dalam bahasa Latin biasa dikenal dengan sebutan cocos nucifera.
Kata coco di gunakan pertama kali oleh Vasco da Gama, dan pada sebutan lain juga biasa disebut Nur indica, al djans al Kindi, ganz-ganz, nargil, tenga, temuai dan akhirnya sampailah pada sebutan coconut. Pada ketinggian tertentu pohon ini mampu menghasilkan buah yang produktif. Di samping kuantitas buah yang signifikan lebih banyak juga menghasilkan banyak kandungan minyak. Pohon kelapa dapat tumbuh pada ketinggian 0-1000 meter diatas permukaan laut. Ketinggian tempat mampu mempengaruhi tingkat produktivitas kelapa.  Hasil survei para ahli telah membuktikan bahwa pohon kelapa yang tumbuh pada ketinggian 0 - 200 m di atas permukaan laut, waktu berbuahnya jauh lebih cepat, produksi buahnya pun lebih banyak, serta memiliki kandungan minyak yang tinggi dibanding dengan pohon kelapa yang tumbuh pada ketinggian 200 - >300 m dari permukaan laut. (Junaedi.2009)

Menurut sebagian ahli sejarah yakni D.F Cook, Van Martius Beccari dan Thoor Herjerdhl dalam Junaedi (2009), kelapa berasal dari Amerika Selatan, naun menurut sebagian lagi yakni menurut Berry Werth, Mearil, Mayurathan, Lepesma, dan Pureseglove berpendapat asal kelapa adalah berasal dari Indopasifik.




B.  Jenis Kelapa

1.      Kelapa Dalam ( tall coconut )
Kelapa dengan jenis kelapa dalam dari bentuk fisiknya saja sekilas sudah dapat kita bedakan atau cirikan. Pada jenis ini batangnya begitu tinggi hampir 30 m atau lebih, kelemahan dari jenis ini ketika usia kelapa telah mencapai 8-10 tahun maka produktivitas buah mulai menurun, walaupun usianya mampu mencapai hingga 100 tahun lebih. Namun komoditas lain yang di hasilkannya cukup tinggi.
Jangka waktu satu tahun, jenis kelapa dalam mampu memproduksi kopra sampai sekitar 1 ton pertahun: setiap satu pohon kelapa jenis ini menghasilkan 90 butir buah kelapa dalam jangka waktu setahun. Tall coconut ini memiliki keunggulan dalam hal ketebalan daging serta kandungan minyak yang di hasilkan jauh lebih banyak bila di bandingkan dengan jenis lainnya (Junaedi. 2009).

Varietas kelapa terdiri dari:
§  Kelapa hijau (varidis)
§  Kelapa merah (rubescens)
§  Kelapa kelabu (macrocorpu)
§  Kalapa (manis sakarina)

2.      Kelapa genjah
Berbeda dengan kelapa dalam di atas, kelapa jenis genjah ini cenderung lebih rawan dari penyakit dan hama. Kondisinya sangat mudah merespon situasi lingkungannya yang kurang baik. Buah yang di hasilkan pun relatif lebih rendah bila di bandingkan dengan jenis lainnya. Berat hanya sekitar 130 gr perbuah sementara minyak di hasilkan pun kurang lebih hanya sekitar 65 % saja kandungannya dari bobot kelapa keringnya. Jenis ini memang mudah dan lebat dalam berbuah, namun begitu kondisinya mudah terpengaruh fluktuasi cuaca (Rukamana, Rahmat dan Yudirachman, Herdi., 2004)
Varietas kelapagenjah terdiri dari:
§  Kelapa gading (eburnea)
§  Kelapa raja (regia)
§  Kelapa puyuh ( pumila)
§  Kelapa raja malabar (pretiosa)
3.      Kelapa hibrida
Varietas yang ketiga ini di hasilkan dari perkawinan kedua jenis pohon kelapa di atas. Varian ini adalah perkawinan yang menggabungkan dua keistimewaan kedua jenis di atas sehingga menghasilkan kelapa produktifits tinggi. Hanya sekitar 4-6 tahun saja jenis hibrida ini sudah dapat menghasilkan. Pada umur 10 tahun adalah masa di mana kopra yang di hasilkan sedang banyak-banyaknya yakni sekitar 6-7 ton pertahun. Jauh dari induknya, hasil buah yang di produksi oleh jenis ini 140 butir kelapa pertahunnya. Ada kurang lebih 12 tandan dalam setiap pohon tersebut dan di setiap tandan berisi sekitar 10-20 butir kelapa. Tebal daging buahnya sekitar 1,5 cm (Rukamana, Rahmat dan Yudirachman, Herdi., 2004).



C.      Potensi Sosial Kelapa
Tanaman kelapaa disebut sebagai tanaman “serba guna” (Tree of Life) karena setiap bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan manusia. Nilai sosial kelapa mempunyai peranan penting dalam dunia kesehatan. Beberapa manfaat kelapa bagi kesehatan adalah sebagai berikut.

1.      Daging Kelapa
Daging kelapa mengandung berbagai macam enzim yang sangat berguna dalam pencernaan. Misalnya, daging kelapa muda dicampur dengan pisang yang dilembutkan dan susu, merupakan makanan tambahan bergizi bagi anak-anak, dan berkhasiat obat bagi penderita sakit pencernaan, tukak lambung, kejang usus, sakit kuning, diare, dan wasir. Mengunyah sepotong kelapa yang masih segar bersama-sama dengan sedikit gula jawa dapat memperkuat gusi dan mencegah sakit gigi pada anak-anak sampai batas usia tertentu. Daging kelapa muda segar yang digiling kemudian ditambah satu gelas air kelapa muda, gula batu, dan satu butir kapulaga; berkhasiat sebagai obat rasa kering dalam dada, keseduan, tukak lambung, dan tidak bisa tidur. Daging kelapa yang diletakkan pada bisul akan memberikan rasa dingin dan dapat sembuh dengan cepat (Junaedi. 2009).

2.      Santan
Santan dari kelapa muda merupakan makanan yang berharga untuk anak-anak yang menderita kekurangan protein dan vitamin D, serta tuberkulosis perut. Minum segelas santan di pagi hari, kemudian disusul dengan minum minyak kastor sebanyak 25 gram; bermanfaat untuk membinasakan cacing pita (Rukamana, Rahmat dan Yudirachman, Herdi., 2004).

3.      Air Kelapa
Air kelapa merupakan air yang steril, alamiah, dan mengandung kadar kalium dan klhor yang tinggi. Air kelapa muda berkhasiat sebagai diuretik atau untuk memperlancar pengeluaran air seni. Air kelapa muda dicampur dengan susu sangat baik untuk makanan anak-anak, di antaranya berkhasiat mencegah penggumpalan susu dalam perut, muntah, sembelit, dan sakit pencernaan. Air kelapa muda dicampur dengan pisang dapat membantu mengatasi pengaruh racun-racun obat, sulfa dan antibiotik, sehingga menjadikan obat-obat itu lebih cepat diserap darah. Apabila rajin mencuci muka dengan air kelapa setiap hari akan melenyapkan jerawat dan noda-noda hitam di wajah. Khasiat lain dari air kelapa adalah mencegah kerut merut wajah, kulit mengering, dan menjadikan wajah berseri (Rukamana, Rahmat dan Yudirachman, Herdi., 2004).

D.      Potensi Ekonomi Kelapa
Tanaman kelapa juga mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Potensi nilai ekonomi kelapa diantaranya adalah sebagai berikut;
1.      Batang
Batang kelapa terdiri atas jaringan pembuluh yang dikelilingi jaringan parenchime. Hal ini membuat kayu kelapa memiliki nilai artistik. Batang kelapa dapat di gunakan untuk kayu bakar karena komposisi kimia kayu kelepa terdiri atas karbon 50%, hidrogen 6,2%, dan oksigen 43,2%; sehingga jika di jadikan kayu bakar mempunyai nilai panas yang sama dengan kayu yang lain. Di samping itu, kayu kelapa sangat baik di buat arang. Makin keras kayu, maka mutu arangnya makin baik. Batang kelepa yang paling baik menghasilkan arang adalah bagian pangkalnya yang mempunyai struktur sangat keras. Arang kayu kelapa dapat di olah lebih lanjut menjadi arang aktif dan arang briket (Junaedi. 2009).
            Batang kelapa  juga dapat di olah menjadi bahan bangunan seperti balok dan kasok atau papan; yang selanjutnya dapat di buat bermacam-macam bagian konstruksi bangunan. Di Philipina, kayu kelapa di manfaatkan sebagai bahan bangunan rumah dalam berbagai jenis standar, dari rumah murah sampai yang bertipe eksekutif. Di rumah tipe eksekutif bagian-bagian konstruksi seperti tangga, lantai, jendela di buat dari kayu kelapa. Hiasan perabot untuk kantor, rumah dan meja sekolah, serta gagang alat;juga di buat dari batang kelapa pada skala pabrik. Selain itu, kayu kelapa juga dapat di gunakan untuk pagar, rumah penjaga, dan tiang listrik. Pada umumnya kayu kelap yang keras (tua) mudah di kerjakan yang masih segar. Untuk memperoleh kayu kelapa yang licin, di perlukan penggunaan kertas pasir sebelum di vernis atau di cat dan wax (Rukamana, Rahmat dan Yudirachman, Herdi., 2004).
2.      Bunga dan Buah
Dari tangkai bunga dapat di hasilkan nira kelpa. Nira kelapa yang di ambil dengan cara di sadap merupakan minuman yang menyegarkan dan berkhasiat sebagai obat. Di samping itu, Nira kelapa dapat di olah menjadi gula kelapa atau gula mangkok. Gula kelapa telah menjadi komoditas ekspor. Kulit atau sabut kelapa dapat di olah menjadi serat sabut kelapa (cocofibre), ampas sabut kelapa (cocodust), airfilter, cocopeat, cocomat, coir mats, matting, rugs,tali, jaring pot, bahan baku kasur dan konstruksi beton, dan lain-lain. Dari 10 kg sabut kelapa dapat di hasilkan 11 kg cocofibre dan 2,5 kg cocopeat. PT Raja Albbatros mas (RAM) di Medan mengekspor kedua produk tersebut ke Australia, Korea Selatan, dan Malaysia sebanyak 40-50 ton/bulan (Junaedi. 2009).
Sabut kelapa juga dapat di olah menjadi medium tanam (cocopeat). Pengolahan sabut kelapa akan menghasilkan serat untuk bahan pengisi kasur pegas dan jok mobil, serta di buat pot dan keset. Serbuk yang merupakan hasil sampingan saat membersihkan sabut kelapa menjadi serat, dapat di manfaatkan sebagai medium tanam (cocopeat). Daging (endosperm) kelapa dapat di buat santan, kelapa parut kering (Desiccated Coconut = DC), dan minyak kelentik. Santan kelapa dari perasan buah kelapa merupakan penyedap bahan makanan di jutaan rumh tangga. Santan juga menjadi komoditasekspor ke Eropa, Singapura, dan Malaysia. Air kelapa dapat di buat nata de coco,semacam kolang-kaling yang saat ini menjadi komoditas ekspor, di jual dalam kemasan tetrapackke Cina dan Taiwan. (Junaedi. 2009).
Tempurung (batok) kelapa dapat di olah menjadi arang batok kelapa, arang aktif, bahan karbon aktif, dan nyamuk bakar. Di luar negeri, karbon aktif antara lain di gunakan untuk penjernih minyak goreng dan bahan baku obat seperti norit (obat diare). Arang batok kelapa banyak di butuhkan oleh industri pengecoran besi; yang setiap bulan Indonesia membutuhkan 300 ton (Dinas Perkebunan,1999).
Beberapa industri yang juga membutuhkan arang batok kelapa adalah tambak udang, tekstil, karbon aktif, dan minyak goreng. Untuk menghasilkan 1 kg arang di butuhkan 4 kg tempurung (batok) kelapa. Saat ini arang bermutu telah di hasilkan melalui proses teknologiWaste Heat Recovery Unit (WHU) untuk mengurangi polusi udara berupa asap tebal beracun. Di Jepang arang batok kelapa di sebut “binchoitan”, banyak tersedia di toserba dan toko bahan bakar di bagian alat perkemahan (Junaedi. 2009).

3.      Daun
Daun kelapa sering di gunakan oleh masyarakat desa untuk atap rumah, sapu lidi, bahan anyaman, dan pembugkus ketupat. Di Kawasan Timur Indonesia (KTI), daun kelapa kering dengan seluruh batang daunnya banyak di gunakan untuk rumpon laut untuk memudahkan dalam menangkap ikan-ikan tuna, cakalang, dan ikan-ikan karang (Junaedi.2009).


4.      Akar
Akar tanaman kelapa terdiri atas akar-akar serabut. Gabungan akar-akar tersebut masing-masing masuk ke dalam tanah untuk mengisap zat makanan. Akar tanaman kelapa dapat di gunakan sebagai bahan obat-obatan dan zat pewarna. Nilai sosial dan ekonomi dari setiap bagian tanaman kelapa dapat di tingkatkan dengan strategi kegiatan agrobisnis dan agroindustri. Untuk maksud tersebut perlu di kembangkan paket teknologi pengolahan yang tepat guna, sehingga sasaran akhir dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani kelapa serta membangun ekonomi rakyat (Junaedi.2009).

E.     Kelapa Sebagai Bioindustri Potensial Indonesia
Jika anda berjalan-jalan ke pulau Sumatera, pasti anda akan sering menjumpai pohon kelapa ada dimana-mana. Sejauh ini pemanfaatan kelapa di Sumatera masih sangat terbatas baik oleh penduduk maupun pemerintah daerah. Umumnya kelapa tersebut hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan (santan kelapa) ataupun minuman (es kelapa muda) yang nilai tambah secara ekonomi tergolong rendah. Hal ini tidak terlalu beda jauh dengan pemanfaatannya secara umum di Indonesia, yang masih berkutat pada produk makanan dan minuman (Anonim. 2012. http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_pangan/kelapa-sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/).
Hal ini sebenarnya sangat disayangkan. Karena potensi kelapa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperluas lapangan pekerjaan cukup menjanjikan. Berbagai produk komersial dari bioindustri kelapa sangat beranekaragam selain daripada produk makanan dan minuman. Pemanfaatan tersebut antara lain liquid smoke atau asap cair (alternatif bahan pengawet pengganti formalin), produk Virgin Coconut Oil (VCO), biodiesel, adsorben, produk minyak goreng, produk sabun, serat sabut kelapa, beriket arang (pengganti briket batubara), produk nata de coco, produk karbon aktif, dan lain-lain. Dengan pemodalan yang cukup dari pemerintah atau swasta, kesemuaan produk tersebut dapat menjadi bioindustri rakyat yang potensial (Sinly Evan Putra, 2008. dalam (Anonim. 2012. http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_pangan/kelapa-sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/).).

1.    Asap Cair (Liquid Smoke)
Seiring dengan telah diketahuinya dampak negatif dari bahan pengawet formalin bagi kesehatan, maka diperlukan alternatif penggantinya. Alternatif yang sekarang sedang marak diproduksi adalah asap cair dari tempurung kelapa. Asap cair ini mengandung lebih dari 400 komponen kimiawi yang memiliki fungsi sebagai pengawet alami melalui sifat antimikrobial dan antioksidannya. Dari 400 komponen kimiawi tersebut, yang paling berperan dalam pengawetan adalah senyawa asam, fenol, dan karbonil dengan komposisi masing-masing adalah 10,2%, 4,13% dan 11,3%. Produk asap cair ini dapat digunakan untuk mengawetkan ikan, daging, sayuran, buah-buahan ataupun sebagai pengeras/pengawet karet dan anti rayap dalam industri kayu (Anonim. 2012. http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/ kimia_pangan/kelapa-sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/).

2.    Virgin Coconut Oil (VCO)
Virgin Coconut Oil (VCO) atau minyak kelapa murni merupakan salah satu produk dari sari pati kelapa yang telah diketahui sangat baik bagi kesehatan. Minyak ini dihasilkan dengan cara memeras buah kelapa segar untuk mendapatkan minyak tanpa dimasak. Keuntungan proses ini adalah minyak yang diperoleh dapat tahan sampai 2 tahun tanpa menjadi tengik. Kandungan VCO yang hampir 50% mengandung asam laurat (C-12) menyebabkan efek kesehatan dari VCO hampir sama dengan air susu ibu (ASI). Hal ini dikarenakan asam laurat dalam tubuh manusia akan diubah menjadi monolaurin. Monolaurin sendiri bersifat sebagai antivirus, antibakteri dan antiprotozoa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa monolaurin dapat merusak membran lipid virus diantaranya virus HIV, influenza, Hepatitis C, dan cytomelagovirus (Timoti, Hana. 2005).

3.    Biodiesel Kelapa
Pemanfaatan kelapa yang juga tidak kalah menariknya adalah sebagai bahan baku biodiesel. Dari penelitian oleh Mahasiswa dari Brigham Young University, untuk mendapat kan 1 liter biodiesel diperlukan 10 buah kelapa dengan produk sampingnya berupa glycerin. Glycerin ini selanjutnya dapat digunakan untuk bahan dasar pembuatan sabun. Untuk di Indonesia, pengkajian pembuatan biodiesel dari kelapa telah dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Departemen Perindustrian. Dalam pengkajian tersebut diketahui bahwa kelapa dapat digunakan sebagai alternatif pengganti solar (coco diesel). I liter solar dalam coco diesel ini dapat diperoleh dari pengolahan 6 butir kelapa. Uji coba coco diesel ini juga telah diujicobakan pada kendaraan Mitsubishi dan mencapai jarak sampai 20 ribu km nonstop, dan dinyatakan lulus uji. Saat diadakan uji ketahanan (performance) kendaraan hanya mengalami turun daya 4% (Anonim. 2012. http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_pangan/kelapa-sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/).

4.    Kelapa sebagai Adsorben
Di kalangan kimiawan dan pakar lingkungan hidup, kelapa juga dapat didayagunakan sebagai adsorben/penyerap. Untuk polutan yang masuk ke tubuh manusia seperti keracunan pestisida ataupun kation logam seperti Pb, Hg, Cd, dan sebagainya, air kelapa sangat dianjurkan untuk diminum. Hal ini dikarenakan air kelapa dapat menetralkan racun sebagaimana susu (Anonim. 2012.http://www.chem-is-try.org/artikel_ kimia/kimia_pangan/kelapa-sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/).
Untuk polutan yang masuk ke lingkungan hidup, bagian dari sabut dan tempurung kelapa sangat potensial didayagunakan sebagai adsorben terutama untuk polutan logam berat yang sangat berbahaya bagi manusia (Anonim. 2012.http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_pangan/ kelapa-sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/).
5.    Produk Minyak Goreng
Minyak kelapa juga digunakan sebagai kebutuhan harian rumah tangga, seperti sabun, kosmetik dan shampoo. Hal ini disebabkan karena asam lemak yang terkandung dalam minyak kelapa membuat larutan yang baik untuk krim dan deterjen.Minyak kelapa mengandung asam lemak yang merupakan anti mikroba dan merupakan satu campuran yang  disebut 'sukrosa cocoate', yang berfungsi untuk melembabkan. Minyak ini digunakan untuk perawatan kulit seperti untuk meredakan inflamasi misalnya eksim dan psioriasis. Krim untuk kulit kepala dan shampoo mengandung minyak kelapa termasuk zat Cocois dan Capasal. Sukrosa cocoatejuga ditambahkan dalam persiapan farmasi karena dapat membantu tubuh menyerap jenis-jenis obat tertentu (Anonim. 2012. www.plantcultures.org).

6.    Produk Sabun
Glycerin merupakan produk samping dari kelapa. Glycerin berbentuk cairan jernih, tidak berbau dan memiliki rasa manis. Glycerin dalam industri dijadikan sebagai bahan baku pembuatan sabun. Karena sifatnya sebagai humektan, sehingga glycerin dalam sabun berfungsi sebagai pelembab kulit. Dalam skala rumah tangga, sabun dapat dibuat sendiri dengan bahan-bahan yang Terjangkau dan dapat diperoleh di toko-toko bahan kimia (Anonim. 2012.http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_pangan/kelapa-sebagai -bioindustri-potensial-indonesia/).
7.    Serat Sabut Kelapa
Sabut kelapa merupakan bagian terbesar dari buah kelapa yaitu 35% dari bobot buah kelapa. Sabut kelapa jika diolah dengan baik akan menghasilkan serat sabut kelapa. Karena sifat fisika dan kimia serat yang dimiliki oleh sabut kelapa ini, sehingga membuat bahan baku alamiah ini mulai dimanfaatkan sebagai bahan baku industri karpet, jok, dashboard kendaraan, kasur, bantal, dan hardboard. Pemanfaatan sabut kelapa lain yang tidak kalah menarik adalah sebagai coco peat yaitu sabut kelapa yang diolah menjadi butiran-butiran gabus sabut kelapa. Coco peat dapat menahan kandungan air dan unsur kimia pupuk, serta dapat menetralkan keasaman tanah. Karena sifat tersebut, sehingga coco peat dapat digunakan sebagai media yang baik untuk pertumbuhan tanaman hortikultura dan media tanaman rumah kaca (Anonim. 2012.http://www.chem-is-try.org/artikel_ kimia/kimia_pangan/kelapa-sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/).

8.    Briket Arang Tempurung Kelapa
Dengan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) dan gas elpiji baru-baru ini, menyebabkan masyarakat harus mencari sumber energi alternatif lain yang jauh lebih murah. Untuk tujuan ini, briket arang dari tempurung kelapa layak untuk diperhitungkan. Briket arang sangat potensial sebagai penganti minyak tanah dan gas elpiji sekaligus juga sebagai pengganti briket batubara, dikarenakan secara teknis, briket arang mudah dibuat, tidak memerlukan teknologi tinggi dan yang paling utama harganya jauh lebih murah (Anonim. 2012.http://www.chem-is-try.org/artikel_ kimia/kimia_pangan/kelapa-sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/).

9.    Produk Makanan dan Minuman
Produk makanan dan minuman dari kelapa sangatlah beraneka ragam diantaranya nata de coco yaitu krim yang berasal dari air kelapa yang terbentuk dari aktivitas fermentasi gula oleh bakteri acetobacter. Hasil fermentasi bakteri ini akan membentuk gel pada permukaan larutan air kelapa. Selain nata de coco, terdapat juga produk cuka, sirup, kecap, dan minuman berenergi dari sari buah kelapa (Anonim. 2012. www.plantcultures.org).
Selain dalam bentuk produk olahan, kelapa juga dapat dinikmati dalam bentuk kelapa segar seperti es kelapa muda. Untuk anda yang tertarik dalam berbisnis kelapa muda, banyak metode pengawetan kelapa muda yang telah dikembangkan. Salah satu metodenya adalah dengan merendam buah kelapa muda dalam larutan antioksidan dan anti jamur, sehingga dapat awet selama 4 minggu tanpa berkurang mutunya. Dengan pengemasan yang baik, produk ini dapat dijual ke hotel-hotel ataupun tempat-tempat kunjungan wisatawan (Sinly Evan Putra, (2008) dalam Anonim. 2012.http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_ pangan/kelapa- sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/).


F.     Kerangka Pikir
Kelapa merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Namun manfaat tersebut tidak terlepas dari beberapa faktor yang menjadi faktor pendorong dalam meningkatkankan manfaat kelapa secara maksimal. Faktor fisik dan faktor sosial merupakan hal yang urgen untuk diperhatikan yang kemudian akan menciptakan peluang di berbagai bidang dalam memanfaatkan kelapa secara maksimal untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Pemanfaatan kelapa merupakan hubungan ekologis manusia dengan lingkungan yang masing-masing memiliki pengaruh satu sama lain. Untuk lebih jelas dan lebih spesifik dari pemanfaatan kelapa akan tergambarkan dalam diagram di bawah ini;

Gambar 1. Diagram Kerangka Pikir






BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Populasi Dan Sampel

1.   Populasi
Dalam penelitian, populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga.  Menurut Saifuddin Azwar (1997) populasi didefinisikan sebagai kelompok subjek yang hendak dikenai generalisasi dari hasil penelitian.
Sumaatmadja (1988) berpendapat bahwa populasi adalah keseluruhan gejala, individu kasus dan masalah yang kita teliti dilokasi penelitian. Populasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu populasi target dan populasi akses. Populasi yang direncanakan dalam rencana penelitian dapat disebut populasi target sedangkan populasi yang dapat ditemui ketika dalam penentuan jumlah populasi berdasarkan keadaan yang ada disebut populasi akses.
Sebagai suatu populasi, kelompok subjek harus memiliki ciri-ciri ataw karakteristik-karakteristik bersama yang membedakannya dari kelompok subjek yang lain. Ciri yang dimaksud tidak terbatas hanya sebagai ciri lokasi akan tetapi dapat terdiri dari karakteristik-karakteristik individu.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua penduduk yang memiliki perkebunan kelapa di Desa Garaupa Raya Kecamatan Pesilambena Kebupaten Kepulauan Selayar.
2.   Sampel
Sampel merupakan bagian dari keseluruhan individu. Menurut Widoyo Alfandi (2001) sampel/cuplikan adalah sebagian dari keseluruhan individu atau populasi yang menjadi objek penelitian.
Sampel secara sederhana adalah sebagai bagian dari populasi yang menjadi data sebenarnya dalam suatu penelitian atau bagian terkecil dari populasi. Sebagai bagian dari populasi, sampel harus memiliki ciri-ciri yang dimiliki oleh populasinya. Apakah suatu sampel merupakan representasi yang baik bagi populasinya sangat tergantung pada sejauhmana karakteristik sampel itu sama dengan karakteristik populasinya. Karena analisis penelitian didasarkan pada data sampel sedangkan kesimpulannya nanti akan diterapkan pada populasi, maka sangatlah penting utuk memperoleh sampel yang representatif bagi populasinya (Azwar, Saifuddin. 1997).
Untuk itulah diperlukan pemahaman mengenai teknik pengambilan sampel yang tepat. Dimana apabila subjek atau populasi kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehinga penelitian merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih, tergantung dari : (1) kemampuan peneliti dari segi waktu dan dana, (2) sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek, dan (3) besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti.
Jadi  sampel dalam penelitian ini adalah sebagian petani kelapa di Desa Garaupa Raya yang bisa mewakili jumlah populasi petani kelapa secara keseluruhan di daerah tersebut.

B.  Variabel Penelitian Dan Desain Penelitian

1.   Variabel penelitian
Variabel adalah suatu sifat atau jumlah yang mempunyai nilai kategorial atau mempunyai nilai yang dapat dinyatakan dengan bilangan. Variabel diartikan juga sebagai lambang yang menyatakan bilangan atau faktor yang mengandung lebih dari satu nilai (Alfandi, Widoyo. 2011).
Menurut Saifuddin Azwar (1997)  bahwa variabel yaitu konsep yang diberi nilai lebih dari satu nilai dan salah satu ciri pokoknya adalah berbentuk diskrit (discrite) atau variabel bersambung (continius). Hasil pengukuran bisa tetap bisa pula berubah-ubah. Adapun variabel-variabel yang akan diteliti adalah aspek yang mendukung aktivitas masyarakat Desa Garaupa Raya dalam memanfaatkan kelapa guna meningkatkan pendapatan petani kelapa. Variabel yang digunakan adalah :
a.    Aspek Fisis yang meliputi :
1.   Luas Lahan
2.   Jumlah Pohon Kelapa
3.   Jarak
b.   Aspek Sosial yang meliputi :
1.   Penerimaan
2.   Pengeluaran
3.   Pendapatan
4.   Biaya
5.   Harga
2.   Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan gambaran atau strategi dalam mengatur atau mensetting penelitian sehingga diperoleh hasil penelitian yang lebih baik. Desain penelitian dirancang sedemikian rupa sehingga jelas arah penelitian yang dilakukan. Dengan dikemukakannya variabel tersebut, maka disusunlah desain penelitian yang akan menjadi penuntun mulai dari persiapan sampai pada akhir pelaksanaan penelitian. Agar penelitian ini tersusun secara sistematis sebagaimana dijelaskan diatas, maka berikut ini tahapan-tahapan dari penelitian sebagai berikut;
  1. Tahap persiapan
Tahap ini merupakan langkah awal dengan melakukan berbagai persiapan seperti merumuskan masalah, menentukan judul, penentuan populasi, sampel, variabel penelitian, seminar proposal, kemudian membuat daftar pertanyaan ( kuosioner ) serta mengurus surat izin penelitian.
  1. Tahap pengumpulan data
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data di lapangan yakni dengan observasi terhadap objek penelitian serta melakukan wawancara dengan menggunakan kuesioner atau daftar pertanyaan.
  1. Pengolahan data
Pada tahap ini semua data yang telah diperoleh dilapangan dikumpulkan kemudian dilakukan pemeriksaan dan perbaikan lalu ditabulasi dalam bentuk tabel sesuai dengan kebutuhan kemudian dianalisis secara deskriptif.
  1. Penyusunan hasil penelitian dalam bentuk skripsi.
C. Definisi Operasional Variabel
Untuk menghindari kerancuan dalam menafsirkan atau meng-interpretasikan variabel-variabel dan untuk memperjelas terhadap permasalahan yang akan di teliti secara empiris dalam penelitian (Alfandi, Widoyo. 2001). Maka di berikan pengertian secara operasional terhadap variabel serta aspek yang di kaji.
a.    Luas lahan
Lahan merupakan luas tanah (Land) yang digunakan untuk usaha pertanaman kelapa yang dinyatakan dalam hektar (ha).
b.   Jumlah Pohon kelapa
Jumlah tegakan pohon kelapa yang berada dalam suatu satuan lahan yang dinyatakan dengan jumlah pohon/ha.
c.    Jarak
Jarak adalah angka yang menunjukkan letak dan persebaran lokasi unit-uit usaha dari rumah petani dan lokasi penjualan-penjualan hasilnya yang dinyatakan dalam kilometer (km).
d.   Biaya
Biaya adalah jumlah ongkos-ongkos yang dikeluarkan oleh petani mulai dari awal suatu produksi sampai terjadinya transaksi penjualan barang yang dinyatakan dengan rupiah (Rp).
e.    Harga
Harga adalah nilai barang dari hasil produksi kelapa ditingkat petani yang dinyatakan dengan rupiah (Rp).
f.    Penerimaan
Penerimaan merupakan jumlah uang yang diperoleh dari penjualan sejumlah output atau dengan kata lain merupakan segala pendapatan yang diperoleh oleh petani kelapa dari penjualan hasil produksinya yang dinyatakan dengan rupiah (Rp).
g.   Pengeluaran
Pengeluaran dalam penelitian ini yaitu semua biaya-biaya yang dikeluarkan dalam mengembangkan usaha pemanfaatan kelapa yang dinyatakan dengan rupiah (Rp).
h.   Pendapatan
Pendapatan dalam penelitian ini adalah jumlah uang yang didapatkan petani kelapa dari hasil produksi setelah dikurangi pengeluaran selama satu kali panen ataw produksi yang dinyatakan dengan rupiah (Rp).

D. Teknik Pengambilan Data
Data merupakan faktor yang sangat penting dalam penelitian. Maksud dari pengumpulan data adalah untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan, akurat sesuai dengan objek penelitian. Untuk memperoleh data yang dimaksud itu digunakan teknik yang dapat diandalkan. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut;




1.   Teknik Observasi
Teknik ini di lakukan dengan cara pengamatan secara langsung di lokasi unit-unit usaha degan cara plotting, pemetaan, pemotretan, terhadap kebun-kebun kelapa dengan berbagai aktivitas produksi serta hasilnya.

2.   Teknik Dokumentasi
Teknik ini tidak kalah pentingnya untuk melengkapi data sekunder yang telah ada sebelumnya berupa data dari Desa atau dari instansi terkait seperti data penduduk, peta administrasi desa dan peta administarai kecamatan dari kantor kecamatan Pasilambena serta data petani kelapa yang ada di Desa Garaupa Raya. Teknik ini mendokumentasikan semua data yang di butuhkan dalam penelitian termasuk kondisi-kondisi fisik dan sosial wilayah penelitian

3.   Teknik Wawancara
Teknik ini dilakukan  dengan cara wawancara langsung dengan petani kelapa menggunakan kosioner atau daftar pertanyaan guna mendapatkan data primer petani  kelapa di Desa Garaupa Raya Kecamatan Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar secara langsung.

E.  Teknik Analisis Data
Setelah melakukan pengumpulan data  di lapangan selanjutnya di lakukan analisis data. Dalam analisis data ini penulis menggunakan analisis data gabungan antara analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif atau lebih dikenal dengan mixed methods. Strategi pendekatan metode gabungan (mixed methods) timbul karena adanya kesadaran bahwa semua metode memiliki keterbatasan. Peneliti merasa bahwa bias yang timbul dari penggunaan satu metode dapat dinetralisir oleh bias yang timbul dari penggunaan metode lain. Selain itu, penggunaan beberapa jenis data diyakini dapat memperjelas data analisis yang dilakukan (Wikipedia, 2012. http//Paradigma_Penelitian.com).
Dengan menggunakan mixed methods tersebut di atas, maka data yang di peroleh akan memberikan gambaran secara deskriptif tentang aspek-aspek yang menjadi fokus penelitian yang kemudian akan memberikan jawaban atas masalah yang sedang di teliti sehingga data tersebut dapat di analisis dengan menginterpretasikan kedalam suatu urutan dasar berupa suatu kesimpulan dan saran.

1.    Analisis keuntungan
Menurut Prasad, Abd. Hallaf Hanafi (2002) untuk analisis keuntungan digunakan persamaan keuntungan atau profit, sebagai berikut:
π = TR – TC
dimana :       π   = Keuntungan
                     TR = Total Revenue
                     TC = Total Cost
Penerimaan (Revenue) adalah jumlah produk yang diperoleh dikalikan dengan harga rata-rata, dengan rumus:
                     TR = Y . Py
Dimana :       TR = Total Revenue
                     Y   = Produk
                     Py  = Harga produk
Biaya total adalah jumlah biaya tetap dan biaya variabel yang dikeluarkan selama proses produksi. Biaya variabel dihitung dengan menjumlahkan hasil perkalian tiap jenis bahan produksi atau pengeluaran-pengeluaran selama proses produksi yang bukan untuk pembentukan modal tetap (Prasad, Abd. Hallaf Hanafi. 2002).
Biaya tetap, khususnya niolai penyusutan barang-barang modal, dihitung dengan rumus berikut:
Dimana :       NP = Nilai penyusutan
                     Nb = Nilai beli
                     Ns = Nilai sisa
                     Ti  = Tahun pakai

2.    Analisis kelayakan Usaha
Analisis kelayakan usaha digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian usaha dalam penerapan kegiatan pemanfaatan kelapa. Sebagai tolak ukur adalah nisbah penerimaan dan biaya atau R/C ratio. Apabila R/C ratio >1, maka usaha layak secara finansial (Prasad, Abd. Hallaf Hanafi. 2002). Secara sederhana dapat ditulis:
R = Py.Y
C = FC + VC
R/C = {(Py.Y) / (FC+VC)}
Keterangan :
R = Penerimaan
C = Biaya
Py = Harga Output
Y = Output
FC = Biaya Tetap
VC = Biaya tidak tetap
Jika R/C ratio  > 1 maka dikatakan layak
Jika R/C ratio < 1 maka dikatakan tidak layak, dan
Jika R/C ratio = 1 maka dikatakan impas ( tidaka untung maupun merugi

3.    Analisis pendapatan perkapita per bulan dan / atau per tahun
Tujuan analisis ini dilakukan untuk mengetahui tingkat penghasilan dari usaha pemanfaatan kelapa yang dapat memberikan kesejahteraan bagi rumah tangga (keluarga) pengusahanya (Prasad, Abd. Hallaf Hanafi. 2002).

4.    Klasifikasi dan kategorisasi tingkat kesejahteraan
Tingkat kesejahteraan rumah tangga (keluarga) pengusaha diklasifikasikan berdasarkan kriteria dan kategori garis kemiskinan Sojogjo (1970) dan Dirjen Agraria (I Made Sandy, 1979) dalam (Prasad, Abd. Hallaf Hanafi. 2002).
DAFTAR  PUSTAKA

Alfandi, Widoyo. 2001. Epistemologi Geografi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Anonim. 2012. http://ditjenbun.deptan.go.id/bbp2tpmed/index.php?option= com_content&view=article&id=125:budidaya-tanaman-kelapa. Diakses Tanggal 14 Februari 2012.
Anonim. 2012. http://food.oregonstate.edu/faq/plant/coconut3.html. Diakses tanggal 25 Apri 2012.
Anonim. 2012. http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_pangan/kelapa-sebagai-bioindustri-potensial-indonesia/. Diakses tanggal 25 Apri 2012.
Anonim. 2012. http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=7. Diakses tanggal 14 Februari 2012.
Anonim. 2012. www.plantcultures.org. Diakses tanggal 25 Apri 2012.
Azwar, Saifuddin. 1997. Metode Penelitian. Pustaka Pelajar Offset, Yogyakarta.
Dinas Perkebunan. 1999. Budi Tanaman Kelapa. Dinas Perkebunan Prop. Dati I Sul-Sel.
Dinas Perkebunan. 1999. Hama Dan Penyakit Penting Tanaman Kelapa Di Sulawesi Selatan. Dinas Perkebunan Prop. Dati I Sul-Sel Ujung Pandang.
Dinas Perkebunan. 1999. Kelapa Pohon Kehidupan. Dinas Perkebunan Prop. Dati I Sul-Sel.
Dinas Perkebunan Sulawesi Selatan. 1996. Buku I Pembakuan Kegiatan Budi Daya Tanaman Perkebunan. Sulawesi Selatan.
Direktorat Jenderal Perkebuan. 1986. Pedoman Praktis Pembibitan Dan Pemeliharaan Kelapa  Hibrida. Direktorat Jenderal Perkebunan Nasional, Jakarta.
Prasad, Abd. Hallaf Hanafi. 2002. Analisis Ekonomi Usaha Penangkapan Ikan Di Kawasan Terumbu Karang Wakatobi. Thesis Prodi Ekonomi Sumber Daya, Universitas Hasanudin.
Junaedi. 2009. Memanfaatkan Semua Bagian Pohon Kelapa. Dea Pustaka, Bandung.
Media Pekebunan. 1998. Perkebunan Merubah Wajah Riau. PT. Provita Prakarya Sembada, Jakarta.
Putra, Sinly Evan. 2008. Kelapa Sebagai Bioindustri Potensial Indonesia. pdf
Rukamana, Rahmat dan Yudirachman, Herdi., 2004. Budi Daya Kelapa Kopyor. Aneka Ilmu, Semarang.
Setyamidjaja, Djoehana. 1985. Bertanam Kelapa Hibrida. Kanisus, Yoyakarta
Soeriaatmadja,R.E., 1997. Ilmu Lingkungan. ITB, Bandung.
Timoti, Hana. 2005. Aplikasi Teknologi Membran Pada Pemuatan Virgin Coconut Oil (VCO). Pt Nawapanca Adhi Cipta. Pdf
Wariso. 2003. Budi Daya Kelapa Genjah. Kanisus, Yogyakarta.
Wikipedia, 2012. http//Paradigma_Penelitian.com. Diakses tanggal 14 Februari 2012.